Home BERITA Ahok atau Anies, Siapa di Hati Anda?

Ahok atau Anies, Siapa di Hati Anda?

SHARE
KBH_04
Pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi saat debat final (Kiki/Kriminalitas.com)

USAI pasangan Agus-Sylvi mengibarkan bendera putih pada gelaran Pilkada DKI putaran pertama dulu, praktis dua pasangan calon yang lain, yaitu Ahok-Djarot dan Anies-Sandi mau tak mau harus siap ‘adu banteng’ untuk menentukan siapa yang pantas jadi jawaranya.

Perang strategi pun tak terelakkan lagi hingga menjadikan konstelasi politik Jakarta menjadi makin panas dan menohok. Peta kekuatan juga makin gamblang terbaca setelah Partai Nasdem, Golkar, dan Hanura memilih bergabung dengan PDIP untuk memenangkan Ahok-Djarot. Sementara Partai PAN, PKS, dan Perindo memilih merapat ke Gerindra untuk mengusung Anies-Sandi.

Sadar bahwa pertarungan semakin berat, timses masing-masing paslon harus rela jungkir balik lobi sana-sini untuk menyedot simpati publik. Peluru-peluru mematikan sudah dilontarkan dan terdengar bising berhamburan untuk membuat lawan tak berkutik, minimal terseok-seok sebelum menuju perang yang sesungguhnya pada 19 April besok.

Di saat-saat seperti inilah berbagai lembaga survei seperti menemukan momentum untuk makin memanaskan suhu politik dengan berbagai prediksinya. Mereka sukses membuat timses masing-masing paslon seperti kebakaran jenggot mencounternya jika hasil survei menempatkan jagoannya dalam posisi ‘dikalahkan’.

Dan lihatlah para pengamat yang juga tak mau kalah memaparkan teori-teorinya. Mereka menggoreng alasan-alasan sosiologis-historis mengapa paslon tertentu akan meraup suara tinggi. Dikatakan, etnis Jawa dan Cina -meskipun minoritas, akan memberikan dukungan kepada pasangan Ahok-Jarot, termasuk tentu saja dukungan finansial, dan itu terbukti dari dana kampanye miliaran rupiah yang mereka dapatkan dari pendukungnya.

Sementara pasangan Anies-Sandi pun diprediksi akan mendapat dukungan dari warga beretnis Jawa, Betawi, dan keturunan Arab, serta warga perantauan dari daerah Sulawesi yang merupakan silsilah keluarga Sandi.

Ternyata, itu semua belum cukup, isu agama pun dibawa untuk mendulang suara. Anjuran untuk memilih pemimpin Islam bagi warga muslim tak henti dilakukan. Sebaliknya, warga nonmuslim pun digiring untuk memilih pemimpin yang seagama. Ini sah-sah saja dan tidak ada yang melarang karena memang begitulah ajarannya. Toh negara juga menjamin bahwa setiap individu bebas menjalankan ajaran agama masing-masing.

Namun pada akhirnya, semua kembali berpulang pada warga Jakarta yang punya hak pilih. Anggaplah segala macam teori serta ‘akrobat politik’ para paslon dan pendukungnya itu hanyalah ‘make up’ saja agar pilkada makin seksi. Karena tetap saja pilihan yang terbaik adalah memilih berdasar hati. Jika Anda ragu, maka tanyalah pada hatimu, tanyalah pada hatimu, tanyalah pada hatimu.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here