Home BERITA Ahok dan Al-Maidah 51

Ahok dan Al-Maidah 51

Efek yang paling nyata dari ‘ulah nakal’ Ahok adalah umat Islam dari berbagai golongan dan ormas Islam bersatu dan berkumpul untuk menyuarakan tujuan yang sama, memuliakan Alquran dan membela Islam.

SHARE

aksi-bela-islamDALAM setiap lakon selalu ada dua kutub yang berseberangan. Ada pro dan kontra, ada setuju dan tidak setuju, serta ada yang mendukung atau menolak karena memang begitulah sesungguhnya dialektika hidup. Tak harus semua sama dan seragam karena perbedaan itu akan memunculkan khazanah baru, sebuah kekayaan hati.

Dan drama ‘4-11’ kemarin adalah pertunjukan kolosal yang menguras energi sekaligus emosi semua yang terlibat. Perhelatan bertajuk ‘Bela Islam’ itulah yang kemudian memicu munculnya perbedaan sudut pandang, banyak yang pro, tapi sekaligus tak sedikit yang mengkritisi.

Pihak yang mendukung mengatakan bahwa unjuk rasa yang digelar dari pagi hingga malam itu adalah murni perjuangan para jamaah dan ulama untuk membela agamanya yang dinistakan. Dengan lantang dan tegas mereka mengatakan: Ahok sudah menghina Islam, dia harus ditangkap dan dipenjara. Itu intinya.

Sementara orang-orang yang mengkritisi pun mengamini tujuan mulia dari aksi demo itu. Bahwa ribuan santri dan jamaah, serta para ulama datang untuk membela Islam, itu adalah fenomena yang menggetarkan hati dan membuat merinding. Kekuatan ukhuwah yang tidak terbantahkan, subhanallah.

Bahkan gara-gara Ahok, umat Islam kembali membuka Alquran dan antusias membaca tafsirnya. Semoga saja itu menjadi sebuah kebiasaan baru dan terus berlanjut. Lalu, dari sang gubernur pula orang muslim diajari etika bertoleransi untuk tidak menyitir kitab suci agama lain, seperti kesalahan yang dilakukan Ahok.

Dan efek yang paling nyata dari ‘ulah nakal’ Ahok adalah umat Islam dari berbagai golongan dan ormas Islam bersatu dan berkumpul untuk menyuarakan tujuan yang sama, memuliakan Alquran dan membela Islam. Mereka sejenak melupakan perbedaan yang sering menjadi ‘duri’ dalam memaknai ajaran Islam yang sebenarnya rahmatan lil alamin.

Namun sayangnya, menurut para pengkritisi, unjuk rasa yang sebenarnya indah itu direcoki oleh penumpang tanpa tiket yang ikut bergabung. Mirisnya lagi, penunggang gelap itu membaur sambil membawa ‘korek api’ untuk ‘membakar’.

Ibarat ‘setitik nila’, para penyusup itu telah mengotori ‘sebelanga susu’ umat muslim dengan tujuan yang tak sejalan dengan marwah yang diperjuangkan. Akibatnya jelas, ‘sebelanga susu’ pun menjadi keruh dan bergejolak.

Meski begitu, gejolak bisa diredam, nila hanya sekadar warna yang tak memengaruhi ‘rasa’. Dan Islam, masih jadi agama dengan beragam sudut pandang dari mereka yang mengenalnya.

Dan Ahok, meski Tuhannya berbeda, ia telah menjadi pemantik umat Islam Indonesia untuk lebih mengenal agamanya agar tidak ‘dibohongi’.

Terima kasih Pak Gubernur, doakan kami menjadi muslim yang cerdas dan bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Rizky Ramadhan and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here