Home BERITA Ahok, John McClane, dan Die Hard

Ahok, John McClane, dan Die Hard

SHARE
Ilustrasi (Wisnu Angga Wijaya/Kriminalitas.com)

BISA jadi Ahok senang nonton aksi John McClane di film Die Hard, sebuah film action yang dirilis pertama kali pada 1988. Film ini disutradarai John McTiernan dengan tokoh utamanya adalah seorang officer polisi NYPD, John McClane yang diperankan oleh Bruce Willis.

John McClane diceritakan sebagai sosok polisi yang eksentrik, lengkap dengan predikatnya sebagai polisi bengal, urakan, sukar diatur, cenderung suka main terabas, tapi tak pernah kompromi dengan segala hal yang menurutnya tak sesuai tatanan yang seharusnya.

Film yang dibuat hingga lima sekuel inilah yang melambungkan nama Bruce Willis sebagai bintang film genre action kelas satu, sejajar dengan Sylvester Stallone, Steven Seagal, Arnold Schwarzenegger, dan lain-lain.

Lalu apa hubungannya Ahok dengan John McClane? Yang pasti mereka bukan saudara kandung. Ini hanyalah sebuah analogi sederhana tentang karakter yang melekat pada seseorang.

Sifat keduanya sama-sama temperamental dan cenderung melabrak norma kesopanan yang telah disepakati bersama. Tentu, sikap itu hanya ditunjukkan pada orang atau pihak-pihak yang menurut kacamata keduanya melanggar aturan.

Dan sepak terjang Ahok selama ini menunjukkan bahwa aturan yang diyakininya benar itu harus dijalankan apa pun risikonya. Meski dia sadar betul, itu berarti dia harus berhadapan dengan orang-orang yang tak sepaham dengannya.

Meski tak disangkal, Ahok telah melakukan blunder dengan menyinggung keyakinan agama lain, tapi secara gentle dia sudah mengakui kesalahan, lalu minta maaf dan bersedia menjalani proses hukum yang akan mengadilinya.

Di saat yang sama, Ahok yang sedang memperjuangkan hak konstitusionalnya dan maju sebagai salah satu kontestan pilkada juga dihadapkan pada masalah yang tak kalah pelik. Ahok diserang dari berbagai lini dan dihujat oleh beribu politisi yang berniat menjegalnya merebut kursi DKI 1.

Mobilisasi massa berlabel agama pun dikerahkan untuk menahan laju Ahok menuju tampuk kekuasaan. Sebuah strategi yang didesain untuk menggerus suara sang petahana dalam pemilihan gubernur.

Namun, meski dihantam badai caci maki dan sumpah serapah yang terus memojokkannya di posisi yang serba sulit, Ahok bergeming. Dia jalani hari-harinya dengan keyakinan bahwa dirinya berjalan di track yang benar -yang tentu saja menurut versinya.

Dan pada 15 Februari kemarin, saat warga DKI berbondong-bondong menitipkan suaranya pada petugas TPS di seantero Jakarta, untuk sementara Ahok boleh menepuk dada. Warga DKI masih memercayainya untuk kembali bertarung di putaran kedua pilkada DKI pada 19 April nanti.

Bahkan yang cukup mencengangkan, Ahok dan pasangannya menjadi pengumpul suara terbanyak di markas FPI yang selama ini gencar menyerangnya. Meski hingga lima kali dihitung ulang, perolehan suara Ahok tetap bertengger di posisi puncak.

Para pengamat pun segera bersuara bahwa pemilih rasional masih menganggap Ahok sebagai sosok yang pantas memimpin Jakarta, apa pun etnisnya, apa pun agamanya.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here