Home BERITA Ahokers, Bersabarlah, Jangan Jadi Lambe Turah

Ahokers, Bersabarlah, Jangan Jadi Lambe Turah

SHARE
KBH_01
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Kiki/Kriminalitas.com)

SORAK-SORAI langsung membuncah saat Marc Marques berhasil memacu motor Honda RC213V tunggangannya dan menyentuh garis finish pertama kali dalam balap MotoGP di Circuit of the America 2017. Dia langsung dielu-elukan oleh pendukungnya. Sanjungan dan puja-puji diterimanya, bahkan dari rival yang mengakui kehebatannya.

Begitulah sportivitas. Persaingan dalam olahraga mengajari kita untuk mengakui keunggulan lawan tanpa merasa perlu mencari kambing hitam demi menutupi kekalahan. Anda menjadi kampiun karena Anda memang pantas menerimanya dengan segala usaha dan jerih payah yang dilakukan.

Sama-sama jadi juara, samakah perlakuan yang diterima Anies usai menang dalam gelaran Pilkada DKI 2017? Alhamdulillah, usai pasangan Anies-Sandi dinobatkan sebagai pemenang dalam hitung cepat, dengan gentleman, Ahok-Djarot segera menyampaikan ucapan selamat.

Jelas itu menjadi catatan tersendiri dan patut diapresiasi. Namun ternyata, ada saja pihak-pihak yang belum ikhlas menerima kenyataan saat harus menelan pil pahit bernama kekalahan. Tapi sudahlah, anggap saja pil pahit itu sebagai obat yang akan menyehatkan proses demokrasi kita.

Sekarang, mari kita tengok di kubu sebelah. Belum juga bisa tidur nyenyak sejak euforia pesta kemenangan dicecap, Anies-Sandi sudah dihadapkan dengan limpahan masalah ibu kota yang bisa dibilang terlalu prematur diarahkan pada keduanya.

Masalah reklamasi misalnya, yang kini menjadi begitu seksi dimainkan untuk mengorek-orek janji kampanye sang penantang petahana. Logikanya, bagaimana mungkin proyek yang sudah diambil alih oleh pemerintah pusat dan ada dasar hukumnya, yaitu Kepres Nomor 52 Tahun 1995 itu bisa serta merta dibatalkan oleh Gubernur DKI mendatang?

Masalah lain yang mengemuka adalah RPTRA Kalijodo yang diisukan kembali dikuasai para preman Kalijodo. Anies-Sandi pun dituding jadi penyebabnya hanya karena Anies pernah foto bareng dengan Daeng Aziz -tokoh sentral di kawasan Kalijodo- saat acara dukungan kepada paslon Anies-Sandi.

Sungguh tuduhan yang naif dan mengada-ada, gubernur yang baru saja terpilih dan bahkan belum juga menjabat bisa tiba-tiba jadi biang keladinya. Padahal menurut pengelolanya, mereka adalah warga Kalijodo yang sengaja dilibatkan oleh pengembang untuk ikut membantu keamanan di wilayah tersebut.

Belum lagi program rumah DP 0 rupiah, penutupan Alexis, program transportasi terintegrasi dengan biaya Rp 5. 000, menciptakan pengusaha baru dengan program OK OCE, dan penataan daerah kumuh untuk menggantikan penggusuran.

Tanpa ampun, banyak pihak yang langsung mencibir, bahkan skeptis dan apriori, serta menganggapnya sebagai program yang mengawang-awang. Padahal, sekali lagi, Anies-Sandi belum mulai menjabat.

Mari gunakan akal sehat, beri kesempatan bagi keduanya untuk menunjukkan kinerjanya. Jangan ada syak wasangka. Biarkan gubernur dan wakil gubernur pilihan warga Jakarta itu merealisasikan janji-janjinya dengan cara mereka sendiri.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here