Home BERITA Bom Samarinda, sejumlah Anak pun Jadi Korban

Bom Samarinda, sejumlah Anak pun Jadi Korban

SHARE
Sejumlah sepeda motor di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, terbakar oleh bom molotov (ISTIMEWA)
Bom Samarinda, Kalimantan Timur (ISTIMEWA)

SIAPA pun pelakunya, apa pun agamanya, senyatanya aksinya sama sekali tidak merefleksikan nilai-nilai religi. Dalam Islam, misalnya, melakukan tindak perusakan ke rumah ibadah dan melancarkan kekerasan terhadap anak-anak -tak terbantahkan- merupakan dua tindakan yang dilarang keras, bahkan dalam situasi perang sekali pun.

Setelah kelompok-kelompok teror belakangan ini terindikasi melakukan perekrutan terhadap anak-anak, jangan sampai para manusia haus darah itu kini juga menyasar anak-anak sebagai sasaran mereka.

Trauma, apa pun sumbernya, niscaya menyakitkan. Tapi trauma yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia (bencana kemanusiaan) berdampak lebih buruk ketimbang bencana alam. Karena itu, dibutuhkan penanganan komprehensif terhadap korban, khususnya anak-anak.

Sebagaimana anak mengandalkan orangtua mereka sebagai pelindung, keluarga pun mengharapkan kehadiran otoritas terkait sebagai pemberi jaminan keamanan. Itu berarti, semakin cepat dan efektif penanganan oleh otoritas berwenang, dan langkah-langkah penanganan itu disaksikan keluarga korban, semakin solid pula fondasi bagi pulihnya kondisi anak-anak yang menderita trauma.

Tindakan kekerasan seperti di Samarinda, apalagi jika secara sengaja ditujukan pada anak-anak, merupakan kejahatan yang sangat keji. Kekerasan dalam operasi pemberantasan teror, seperti yang disaksikan oleh anak-anak TK di Klaten beberapa waktu lalu, pada dasarnya juga bukan sesuatu yang bisa ditoleransi. Keduanya masalah serius.

Namun jangan sepelekan efek kekerasan verbal dan psikis terhadap anak-anak, termasuk kekerasan di masyarakat (community violence), berupa penghinaan dan ungkapan-ungkapan peyoratif lainnya seperti yang kerap diperagakan oleh sebagian elit dan kian marak pada masa kontestasi politik.

Kekerasan lisan di masyarakat barangkali tidak seketika memunculkan guncangan psikis. Tapi sebaliknya; terbiarkannya kekerasan semacam itu dapat memberikan pembelajaran kontraproduktif kepada anak-anak, bahwa kekerasan psikis dan lisan ternyata merupakan bentuk perilaku yang dimaklumi.

(Reza Indragiri Amriel)

*Penulis adalah seorang Ahli Psikologi Forensik dan Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here