Home BERITA Bupati Klaten Jadi Tersangka Suap, PDIP: Padahal Dia Kader Terbaik

Bupati Klaten Jadi Tersangka Suap, PDIP: Padahal Dia Kader Terbaik

SHARE
Ketua DPC PDIP Klaten, Sunarna saat menggelar konferensi pers. (Alexy/Kriminalitas.com).

KRIMINALITAS.COM, Klaten – Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Klaten, Sri Hartini lalu meninggalkan keprihatinan mendalam di kalangan kader dan pengurus DPC PDIP Kabupaten Klaten.

Pasalnya, selama ini Sri Hartini dianggap sebagai kader terbaik, ternyata berbuat menyimpang dari kebijakan partai.

“Kami sangat terkejut adanya OTT terhadap bu Sri Hartini, tapi kami mengambil langkah tegas sesuai komitmen partai dalam pemberantasan KKN. Pemecatan dari keanggotaan partai sudah dilakukan oleh DPP. Yang jelas kami sangat prihatin, tanpa sepengetahuan kami, kader terbaik kami telah melakukan kesalahan fatal,” ujar Ketua DPC PDIP Klaten, Sunarna saat menggelar konferensi pers, Kamis (5/1/2017).

Meski begitu, lanjut mantan Bupati Klaten periode sebelumnya itu, pihaknya memberikan hormat dan apresiasi yang tinggi dengan kebijakan partai terhadap pemberantasan KKN. Pihaknya juga sangat menghargai terhadap tindakan KPK dengan menangkap Sri Hartini.

“Apa yang dilakukan Sri Hartini tersebut merupakan perbuatan individu dan bukan kebijakan partai,” tegasnya.

Untuk itu, ia mengimbau agar para kader mengambil hikmah dan memperbaiki langkah ke depan. Ia tak ingin kader saling hujat dan membuat pertengkaran apapun agar ke depannya tidak timbul permasalahan baru.

“Permohonan maaaf sebesar-besarnya kami ucapkan kepada masyarakat Klaten. Kader terbaik kami telah berbuat salah, seluruh jajaran pengurus mohon maaf kepada masyarakat. Kami berjanji untuk bekerja lebih baik melalui eksekutif dan legislatif demi seluruh masyarakat Kabupaten Klaten,” katanya.

Sri Hartini ditangkap KPK karena diduga menerima suap terkait pengaturan jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten. Ia diamankan tim Satgas KPK bersama tujuh orang lainnya pada Jumat (30/12/2016) di rumah dinasnya.

Empat orang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tiga lainnya pihak swasta. Dari rumah dinas tersebut tim menyita uang Rp 2 miliar, 5.700 dolar Amerka dan 2.035 dolar Singapura serta buku catatan yang berisi nama pemberi dan penerima uang.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Alexy Pratama and Dinda Chairina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here