Home BERITA Donald Trump, Bukti Politik Tak Bisa Dipercaya

Donald Trump, Bukti Politik Tak Bisa Dipercaya

SHARE
NBC News
NBC News

HARI INI, Rabu 9 November 2016, jadi hari yang mengejutkan bagi rakyat Amerika bahkan dunia. Presiden baru telah terpilih dan akan menggantikan Barack Obama. Hasil penghitungan suara Pilpres AS yang jadi perhatian di seluruh dunia ini pun telah menasbihkan Donald Trump sebagai ‘juara’ usai dipastikan memenangi Pemilu dan mengalahkan pesaingnya Hillary Clinton.

Pesta pora pendukung Partai Republik yang menaungi Mister Donald pecah. Euforia kemenangan pun langsung menyeruak. Hal ini berbanding terbalik dengan ‘ketidakpercayaan’ para pendukung Hillary dari Partai Demokrat, bahkan rakyat Amerika dan dunia pada umumnya.

Bayangkan, meski kalah dalam tiga kali debat dengan Hillary, diterpa isu pelecehan seksual, bahkan jajak pendapat berbagai lembaga survei pun selalu menempatkan Hillary sebagai pemenang, kenyataan berkata lain. Donald Trump, seorang konglomerat, gurita bisnis televisi, pemilik The Trump Organization, dan pendiri Trump Entertainment Resorts inilah yang akhirnya akan tercatat sebagai presiden ke-45 bagi AS.

Keheranan yang mungkin ada di benak orang-orang yang ‘tak terima’ dengan kemenangan Trump adalah, bagaimana mungkin orang yang dicap rasis, intoleran, dan kerap mendikreditkan agama tertentu ini bisa terpilih menjadi seorang presiden di sebuah negara yang ‘katanya’ sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman?

Lalu, apa jadinya jika hal itu terjadi di negara kita: Indonesia. Sebutlah misalnya figur yang kontroversial dengan segala tingkah polahnya, yang tak bijak memfilter ujaran yang keluar dari mulutnya tiba-tiba maju dan mencalonkan diri dalam kontestasi pemilihan kepala daerah atau mungkin kepala negara.

Bisa jadi, dengan kekuatan pundi-pundi uang yang dimiliki dan ketenarannya, ditambah dukungan orang-orang yang tamak kekuasaan  yang berkelindan di sekelilingnya, bukan tidak mungkin akan mampu menggerus tokoh-tokoh lain yang maju menjadi rival politiknya.

Pun misalkan lawan politiknya itu seorang istri mantan penguasa yang dikenal bersih, berintegritas, dan terbukti dengan track record yang dimilikinya, sekali lagi, ternyata itu bukan jaminan. Yang tak boleh dinafikan adalah bagaimana mesin politik di belakangnya bekerja, tak peduli strategi yang dilakukannya.

Begitulah realita politik di level apa pun dan di negara mana pun. Seperti yang terjadi dengan Trump, tak ada yang pasti di dunia politik. Siapa tahu nanti, entah kapan, di Indonesia, seorang tersangka bisa memenangkan pemilu dan menjadi seorang pemimpin.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here