Home BERITA Hari Pers dan Si Sumbu Pendek

Hari Pers dan Si Sumbu Pendek

SHARE
Ilustrasi (Net)

“LAWAN…! Ini tidak bisa dibiarkan, harus dilawan! Rakyat tidak boleh diam saja. Semua harus bersatu melawan penguasa zalim!” Kang Timan berteriak-teriak dengan muka merah padam menahan emosi.

Gerombolan Kang Timan pun langsung menyambutnya dengan seruan-seruan perlawanan yang menggidikkan siapa pun yang mendengarnya. “Tumbangkan rezim pengkhianat rakyat…! Rakyat harus turun ke jalanan! Serbuuu…!”

Lalu, Mas Sabar, seseorang yang dari tadi mendengarkan orasi Kang Timan mendekatinya dan menanyakan apa yang membuat Kang Timan begitu garang berteriak. Dengan cekatan, Kang Timan mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah berita yang memang mengejutkan dengan data-data yang terlihat meyakinkan.

“Rakyat miskin dilarang sakit. Negara tak akan mensubsidi biaya kesehatan masyarakat. Kalau rakyat bandel dan masih berani sakit, tanggung sendiri akibatnya!”

Mas Sabar pun menanyakan kebenaran kabar itu dan dari mana berita menghebohkan itu didapatkan.

“Makanya baca di medsos. Berita itu sudah tersebar ke mana-mana, kok,” jawab Kang Timan.

Mas Sabar segera tertunduk lesu begitu mendengar jawaban Kang Timan. Ada yang mengganjal di hatinya, ada keresahan yang tiba-tiba mengusik jiwa jurnalisnya. “Ini memang tak boleh dibiarkan dan berita ini harus diluruskan sebelum semuanya terlambat!”

***

Begitu berbahayanya berita hoax, imbasnya bisa sangat meresahkan dan berpotensi menyebabkan huru-hara yang sangat masif. Dan media sosial -selain tentu saja banyak sisi positifnya- ternyata juga menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Tipikal berita di sosmed yang keakuratan dan kesahihannya masih perlu dikonfirmasi dan diverifikasi itu sungguh menjadi ancaman serius bagi dunia jurnalistik.

Menyadari betapa berbahanya berita berisi fitnah, kebencian, hasutan, dan caci-maki itu, Presiden Jokowi pun meminta insan pers di Indonesia untuk lebih bijak memberikan informasi kepada masyarakat luas.

Dan harapan presiden itu menjadi tugas berat bagi media-media arus utama (mainstream) untuk tetap memegang teguh etika jurnalistik, meskipun terus digempur oleh pemberitaan media sosial dan media abal-abal.

Karena sejatinya, fungsi media massa adalah memberikan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan, sekaligus memberikan edukasi yang mencerdaskan bagi pembacanya serta bebas dari intervensi dari pihak mana pun.

Bahkan seorang presiden pun tak berhak mengatur-atur arah pemberitaan suatu media. Itu artinya, independensi pers dijamin. Jadi tak ada alasan lagi untuk takut, pers harus berani mengabarkan bahwa kebenaran tetaplah kebenaran meskipun itu harus mengkritik kebijakan penguasa yang dinilai tak pro rakyat.

Dan pesan untuk Kang Timan, jadilah pembaca yang cerdas karena tidak semua yang diberitakan itu merupakan kebenaran.

Selamat Hari Pers Nasional 2017.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here