Home BERITA Indonesia, Jadilah Humanis seperti Sutisna

Indonesia, Jadilah Humanis seperti Sutisna

SHARE
Aiptu Sutisna, polantas yang dicakar Dora Natalia (Kanugrahan/Kriminalitas.com)
Aiptu Sutisna (Kanugrahan/Kriminalitas.com)

CUACA panas di daerah Jatinegara, Jakarta Timur, pada Selasa (13/12/2016) siang itu bertambah panas. Seorang ibu-ibu bertelanjang kaki mendadak turun dari mobilnya, memaki bahkan sempat mencakar seorang petugas polisi. Namun, si petugas yang diserang itu tampak kalem dan tidak membalas sedikit pun.

Entah perkara apa yang menyulut sumbu pendek si ibu berhijab ungu itu hingga mendamprat polantas yang siang itu tengah mengatur lalu lintas. Belakangan diketahui petugas polisi itu adalah anggota Satlantas Polda Metro Jaya, Aiptu Sutisna dan si ibu adalah pegawai Mahkamah Agung, Dora Natalia.

Pertikaian di siang bolong itu berbuntut panjang. Sutisna melaporkan Dora ke polisi. Hingga kini, kasusnya masih diselidiki aparat kepolisian. Ada kemungkinan Dora berurusan dengan hukum akibat ‘ledakannya’ Selasa siang itu.

Sementara Aiptu Sutisna justru mendapat penghargaan dari bosnya, Irjen Mohamad Iriawan karena dinilai telah bersikap humanis dan sabar dalam menghadapi amukan Dora. Meski begitu, Sutisna melapor ke polisi bukan karena makian atau cakaran maut Dora. Makian dan cakaran itu tak seberapa dibanding sakit hati yang dirasakannya.

“Saat baju saya ditarik, saya merasa sakit hati. Karena pakaian yang saya pakai mencari nafkah terkesan dilecehkan,” kata Sutisna Rabu (14/12/2016) siang.

Namun begitu, Sutisna mengaku legowo memaafkan Dora. Menurutnya, mungkin saat itu Dora sedang khilaf. “Namanya orang minta maaf akan saya maafkan,” ucapnya ikhlas.

Kasus ini mengingatkan pada polemik yang belakangan jadi sorotan utama di Indonesia. Kasusnya sama-sama penghinaan, meski dalam skala yang lebih luas.

Sedikit banyak, kasus Dora vs Aiptu Sutisna ini serupa dengan kasus Ahok vs umat Muslim. Kalau Sutisna merasa seragam dan profesinya dilecehkan, pun begitu dengan umat Muslim yang merasa agamanya dinistakan oleh sang Gubernur Petahana.

Lalu apakah pintu maaf juga telah dibukakan umat Muslim pada Ahok, laiknya Sutisna ke Dora? Dalam kasus Ahok nampaknya tidak begitu skenarionya. Hingga kini eks Bupati Belitung Timur itu masih banjir hujatan.

Meski kasusnya sudah masuk persidangan, Ahok masih ‘diadili oleh massa’. Makian berbagai rupa masih dilontarkan. Bahkan, tangis Ahok saat membacakan nota keberatan disebut air mata buaya.

Apa sebegitu dendamnya umat Muslim hingga pintu maaf itu tertutup bagi orang yang mereka cap si penista agama? Padahal jika ditilik, Islam mengajarkan untuk saling memaafkan. Apa sebegitu membaranya dendam umat Muslim hingga penghakiman yang dilakukan oleh wakil Tuhan tetap membuat mereka tak puas?

Tak ada guna menyimpan dendam. Seperti kata Aa Gym, “Jika kita memelihara kebencian dan dendam, maka seluruh waktu dan pikiran yang kita miliki akan habis dan kita tidak akan pernah menjadi orang produktif.”

Pikiran serupa dimiliki Aiptu Sutisna yang memaafkan Dora. “Kalau pribadi saya, sebesar apa pun kesalahan orang, kalaupun orang itu tidak meminta maaf, pasti akan saya maafkan,” ucapnya.

Dan saya yakin, umat Islam akan berbesar hati memaafkan Ahok dan membiarkan hakim sebagai wakil Tuhan di dunia menjalankan tugasnya dengan seadil-adilnya.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and GAY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here