Home BERITA Kaleidoskop 2016: Codet di Wajah Indonesia dalam Balutan Berita

Kaleidoskop 2016: Codet di Wajah Indonesia dalam Balutan Berita

SHARE
Ilustrasi Kaleidoskop 2016. (Kriminalitas.com)

“Scars have the strange power to remind us that our past is real.”

― Cormac McCarthy, All the Pretty Horses

CODET alias bekas luka, memiliki kekuatan tersendiri untuk mengingatkan kita bahwa masa lalu yang dilalui adalah nyata. Demikian kira-kira kalimat di atas dialihbahasakan dari novel All the Pretty Horses karya Cormac McCarthy. Tak keliru kiranya jika kalimat itu hadir untuk mengingatkan manusia untuk tetap belajar dari masa yang telah lewat.

Saat toleransi kian terkikis, nyawa seperti tak ada harganya, dan moral dianggap hanya isapan jempol belaka, Kriminalitas.com mencatat beragam peristiwa yang meninggalkan bekas luka di wajah Indonesia. Mereka -sejumlah peristiwa itu- begitu nyata terlihat, terlalu perih untuk disyukuri, namun begitu berharga untuk dilupakan begitu saja.

Oleh sebab itu, sebagai generasi yang menolak melupakan sejarah, peristiwa itu kami catat sebagai masa lalu yang patut diingat. ‘Bekas luka’ itu kami rangkai dalam bingkai dan kami harapkan menjadi pengalaman yang bisa direnungkan.

Tentu masih lekat diingatan ledakan yang menghancurkan pos polisi di perempatan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Tak terasa, sudah nyaris setahun kejadian itu berlalu. Aksi heroik sejumlah perwira polisi menjadi sorotan masyarakat, khususnya mereka yang aktif di media sosial.

Atensi masyarakat yang besar itu dibayar tuntas oleh aparat. Tak hanya bisa berpenampilan keren, perwira polisi itu juga mampu menggulung sejumlah pelaku teror sebelum melakukan aksinya.

Pelajaran lain yang hadir tahun ini yakni mengenai scientific investigation yang diterapkan oleh penyidik Polda Metro Jaya pada kasus pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin. Polisi yang ‘kehilangan’ barang bukti utama sianida tak patah arang untuk mencari bukti lain yang bisa memberikan petunjuk siapa sebenarnya pembunuh Mirna.

Meski sempat diragukan penyidikannya, namun pada akhirnya pengusutan kasus itu menemui jalan terang.  Setelah nyaris setengah tahun mengisi pemberitaan di media massa cetak, elektronik maupun online, akhirnya kasus ini bisa dirampungkan. Jessica Kumala Wongso, wanita yang tak lain merupakan sahabat Mirna, diputus bersalah atas peristiwa tersebut.

Tak hanya kasus-kasus yang melibatkan ‘fisik’ secara langsung, tahun ini juga diisi dengan kasus yang bermuara dari dunia maya. Tak berlebihan jika menyebut kasus Buni Yani yang mengunggah video Basuki Tjahaja Purnama yang diduga menistakan agama merupakan awal dari ‘atensi’ masyarakat mengenai ‘bahayanya’ media sosial.

Dua orang tersebut, Ahok dan Buni Yani, akhirnya menjadi tersangka. Ahok disangkakan pasal penistaan agama, sementara Buni Yani disangkakan kasus ujaran kebencian. Berkaca pada dua kasus tersebut, kini media sosial turut menjadi soal. Di sana, manusia seperti memasuki satu dimensi yang begitu liar dan nyaris mengabaikan norma.

Kasus-kasus di atas merupakan segelintir kasus yang meninggalkan luka di wajah Indonesia yang bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua.

Untuk bekas luka lainnya tergores di sini: Kaleidoskop 2016

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Rizky Ramadhan and BLK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here