Home BERITA Kasus Ahok, Bukti Cinta Jokowi kepada Bangsa

Kasus Ahok, Bukti Cinta Jokowi kepada Bangsa

SHARE
Kapolri, MUI, dan ormas Islam membahas masalah demo Bela Islam (Kriminalitas.com)
(Kriminalitas.com)

NYARIS sebulan lamanya sejak terjadinya ‘slip of tongue’ sang petahana Gubernur DKI, ontran-ontran politik di tanah air seperti tepercik api yang menyulut perdebatan panas tanpa henti dan memenuhi ruang-ruang kehidupan bernegara. Hawa panas pun langsung menjalar ke mana-mana dan menghabiskan energi komponen bangsa dengan saling bertikai mengibarkan genderang perselisihan.

Elemen masyarakat yang menamai dirinya GNPF MUI pun seperti tak pernah kehabisan bahan bakar untuk terus mengobarkan gelombang demonstrasi dengan tuntutan memenjarakan si terduga penista agama, dan bagi mereka, itu harga mati yang tak bisa ditawar.

Punggawa hukum di tanah air pun bergerak cepat untuk meredam ‘kemarahan’ massa yang kadung meradang sampai ubun-ubun. Segala upaya ‘percepatan’ proses peradilan dilakukan dengan sangat transparan dengan mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang kompeten. Namun ternyata, upaya keras itu pun masih belum cukup bagi barisan GNPF MUI dan menjanjikan aksi massa yang lebih ‘meriah’.

Curhat sang mantan yang merasa dijadikan sasaran tembak atas huru-hara politik di dalam negeri pun memunculkan rumor baru yang makin menjauhkan kesejukan dalam situasi yang telanjur memanas. Keprihatinan sang mantan seperti memantik ‘keresahan nasional’ menjadi semakin seru dan menegangkan.

Dan akhirnya, pemerintah pun angkat bicara bahwa bukan demo Bela Islam yang dikhawatirkan, tapi adanya kecurigaan terhadap kehadiran ‘musuh dalam selimut’¬†yang berpotensi¬†menimbulkan kekisruhan dan memicu masalah yang lebih pelik.

Maka menjadi wajar saja ketika atas nama kebinekaan dan stabilitas politik Indonesia, presiden melakukan safari politik dan bertemu dengan tokoh-tokoh negara dan para alim ulama yang tergabung dalam wadah MUI, PBNU, dan Muhammadiyah. Tujuannya jelas: mengademkan tensi tinggi di masyarakat.
Bahkan Jokowi pun memainkan strategi jitu dengan main ‘kuda-kudaan’ dengan bekas seterusnya pada 2014, lalu ‘gendong-gendongan’ dengan jajaran TNI dan Kopasusnya.

Jokowi pun berbincang akrab sembari menyantap nasi dan mie goreng di Istana bersama Megawati. Pesannya jelas bahwa siapa pun yang berani merongrong kedaulatan bangsa akan berhadapan dengan rakyat dan pasukan berani mati yang akan berjihad demi keutuhan NKRI.

Tak cukup sampai di situ, presiden pun mendelegasikan tugas mulia kepada Panglima TNI dan Kapolri untuk turun tangan merangkul seluruh elemen bangsa dengan pendekatan yang humanis dan menyejukkan.

Dan semua bisa melihat hasilnya, demo 212 yang semula ditakutkan akan menjadi pemicu kegaduhan nasional berubah menjadi acara gelar sajadah dengan lantunan doa dan zikir bersama.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, siapa yang patut diapresiasi atas meredanya ‘uji nyali’ dan konflik yang menegangkan ini? Tak lain adalah rakyat Indonesia yang dengan segala kedewasaannya mampu melihat dengan jernih dan tak terprovokasi oleh ulah segelintir orang yang ingin memecah belah dan merecoki ketenteraman berbangsa.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here