Home BERITA Kemenangan Anies Bak Cerita Hanoman Ubrak-Abrik Kota Alengka

Kemenangan Anies Bak Cerita Hanoman Ubrak-Abrik Kota Alengka

SHARE
KBH_01
Komisioner Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai (tengah) memberi keterangan pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta (24/2/2017).

KRIMINALITAS.COM, Jakarta – Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai menyebut kemenangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno di arena Pilkada DKI Jakarta 2017 bak kisah ramayana. Anies digambarkan sebagai Hanoman, salah satu dewa yang sakti mandraguna dan dikenal sebagai dewa pelindung.

Hanoman yang sejatinya dewa pelindung menjadi penghancur kota Alengka yang dipimpin Rahwana lantaran ia hendak dijatuhkan hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Hukuman itu, menurut Pigai, seperti yang dialami oleh Anies Baswedan saat dicopot sebagai menteri pendidikan oleh Joko Widodo.

“Kesalahan terbesar Rahwana memecat Anies sembarang dari posisi menteri tanpa menghitung jasa atas perjuangan mereka. Pasti Hanoman sakit hati dan nyatakan perang yang berhasil menyingkirkan Ahok sebagai orang dekat Jokowi,” kata Natalius kepada Kriminalitas.com di Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Natalius menjelaskan, kekalahan Ahok seperti cerita kematian adik Rahwana, Kumbakarna yang mati teraniaya yakni dengan keadaan tangan, kaki, dan leher yang terpisah dari badannya akibat lesatan panah dari Ramawijaya.

Natalius mengibaratkan Ramawijaya sebagai Prabowo Subianto yang hendak menyerbu Jakarta yang diibaratkan sebagai kota Alengka, tempat Rahwana berkuasa.

“Sakitnya Hanoman karena Rahwana, kakaknya Kumbakarna memberi hukuman yg kejam langsung pemecatan dari kursi menteri. Bagaimanapun Anies berguru pada bosnya Prabowo Subianto pemimpin perang ibarat Ramawijaya menyerbu negeri Alengka berhasil dikuasai setelah menewaskan Ahok sang Kumbakarna,” tutur Natalius.

Kota Alengka pun berhasil dikuasai setelah sang Hanoman berhasil mengubrak-abrik isinya. Kumbakarna yang sejatinya sedang tidur di rumahnya dan terpaksa ikut perang lantaran terpanggil hatinya untuk membela negeri gugur. Rahwana kalah, Ramawijaya menang.

Berdasarkan cerita Ramayana itu, Natalius berpandangan bahwa selama ini masyarakat telah keliru paham memahami posisi Ahok sebagai si kalah dalam Pilkada. Menurut Natalius, Ahok kalah bukan karena ulah dirinya sendiri melainkan imbas dari ulah Rahwana kepada lawannya di Pilkada DKI Jakarta.

“Yang harus bersalah dan merefleksikan atas kekalahan ini adalah Rahwana karena ulahnya. Karena itu, kematian kumbakarna harus dihormati sebagai nasionalis tulen dan patriotik yang jujur,” tutup Natalius.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Rizky Ramadhan and Kanugrahan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here