Home BERITA Lawan Teroris, Indonesia Kuat

Lawan Teroris, Indonesia Kuat

SHARE
Ilustrasi (Kriminalitas.com)

LAGI-LAGI, dan untuk kesekian kalinya, teror bom kembali mengguncang Ibu Kota. Aksi teror ini jelas membuat susah tidur, tidak hanya para pemimpin negeri dan para aparat pengawal keamanan, tapi juga rakyat yang diayominya.

Setidaknya selama tahun 2000 hingga saat ini, telah terjadi tujuh kali aksi teror di Jakarta. Masih terekam dalam ingatan rentetan kasus teror yang terjadi di Kedutaan Besar Filipina, Bursa Efek Jakarta, Gereja di Duren Sawit dan Kalimalang, Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, dan Plaza Sarinah di Jalan MH Thamrin.

Yang terbaru adalah tragedi bom bunuh diri di Kampung Melayu yang menyisakan lara. Kita tentu sepakat untuk dengan takzim mengucapkan dukacita mendalam untuk tiga polisi muda yang gugur saat tengah bertugas dan tentu rasa simpati yang besar bagi belasan korban luka lainnya.

Semua pasti melaknat ulah keji para bomber -pemburu surga yang salah jalan ini- karena telah bertingkah bak malaikat pencabut nyawa. Atas nama jihad, mereka dengan semena-mena dan sangat tak berperikemanusiaan tega mengorbankan saudaranya sendiri untuk tujuan yang sulit dipahami oleh kebanyakan kaum yang mau berpikir dengan akal sehat.

Jaringan teroris memang sudah diendus keberadaannya, langkah-langkah taktis dan preventif pun tak kurang dilakukan oleh penegak hukum. Namun hingga saat ini, diamini atau tidak, memang tak mudah untuk mendeteksi kapan para teroris yang ‘kalap agama’ ini akan melakukan terornya, di mana lokasi ‘harakiri’ akan ditunaikan, dan siapa target mereka sebenarnya, semuanya masih muskil dijawab.

Banyak yang mengatakan bahwa musuh bebuyutan para teroris di Indonesia ini adalah aparat kepolisian. Bagi teroris, polisi adalah pihak yang dianggap paling ‘bertanggung jawab’ atas kegagalannya mengusung paham garis keras yang mereka yakini kebenarannya.

Mungkin karena itulah para ‘jihader salah arah’ ini melakukan gerilya dengan operasi senyap, menunggu kelengahan aparat dengan membentuk sel-sel teroris kecil untuk menyebarkan ideologi radikal.

Inilah yang sulit dideteksi karena para pentolan teroris selalu mengincar orang-orang baru untuk dididik menjadi pasukan berani mati bermodal iming-iming 72 bidadari dengan kecantikan tiada banding yang menunggunya di swargaloka.

Namun, para teroris itu mungkin lupa bahwa rakyat tidak cengeng dan tak pernah takut menghadapi mereka. Rakyat tak bisa dikalahkan. ‘LAWAN TERORIS, INDONESIA KUAT’.

Sungguh, semoga tak ada yang berpikir bahwa teror bom ini sekadar pengalihan isu karena harga nyawa tiga polisi pengayom masyarakat yang gugur itu terlalu mahal untuk menebusnya. Jika pun ada yang tetap nyinyir, sebaiknya dia segera pergi ke dokter jiwa, bisa jadi jiwanya memang sakit dan berkarat.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here