Home BERITA Malaikat pun Tahu, Keadilan Tak Bisa Dibendung

Malaikat pun Tahu, Keadilan Tak Bisa Dibendung

SHARE
Massa aksi 212 salat Jumat di Monas (Kiki BH/Kriminalitas.com)
Massa aksi 212 salat Jumat di Monas (Kiki BH/Kriminalitas.com)

USAI sudah parade kolosal bertajuk Aksi Super Damai 212 yang dihadiri oleh satu jutaan muslim dari berbagai daerah. Mereka semua digerakkan oleh niat bersih di hati untuk membela agama dan kitab suci yang dinistakan.

Atas nama ghirah, lautan manusia bergaun putih itu berduyun-duyun menyesaki kawasan Monas dan sekitarnya untuk menggelar sajadah melantunkan zikir dan doa-doa bersama para ulama dan pemimpin umat. Sungguh itu menunjukkan betapa keyakinan dan keimanan terhadap kebenaran Islam telah menyatukan mereka dalam kekhusyukan bermunajat.

Bahkan, presiden dan wakilnya pun tak ingin kehilangan momen sakral untuk hadir di tengah massa dan berbaur dalam kekhusyukan salat Jumat meski hujan mengguyur. Inilah keindahan, segala pangkat dan jabatan menjadi nomor kesekian ketika keyakinan agama telah menyatukan umat.

Alhamdulillah, aksi massa yang tadinya dikhawatirkan akan ternodai dengan tindakan tak patut itu bisa berjalan damai, sejuk, dan tertib seperti yang dijanjikan. Sejuta apresiasi sudah selayaknya tertuju kepada para penjaga akidah.

Namun, ada yang mengganjal ketika beberapa jam sebelum digelarnya istighosah itu, tersiar kabar yang cukup mengejutkan. Sepuluh orang diciduk aparat kepolisian dengan tuduhan yang tak main-main. Mereka diduga menjadi pelaku makar. Beberapa di antaranya, ada nama-nama yang sangat familiar dan sering muncul di pemberitaan media nasional. Mereka adalah Kivlan Zen, Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarnoputri, Ahmad Dhani, dan Ratna Sarumpaet.

Para terduga pelaku itu pun dijerat dengan pasal dugaan makar, pencemaran nama baik, dan penghinaan terhadap simbol negara. Tak tanggung-tanggung, mereka langsung ditahan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, setelah diciduk di hotel dan rumah masing-masing.

Tak perlu waktu lama, polemik pun segera meruak. Banyak kalangan langsung angkat bicara tentang kesetaraan di muka hukum. Masyarakat pun bertanya-tanya, ada apa ini? Mengapa orang-orang itu bisa langsung diamankan dan ditahan dalam waktu yang sangat singkat. Sementara, seorang yang jelas-jelas telah dinobatkan sebagai tersangka dan memicu demo skala masif, serta melukai nurani mayoritas pemeluk agama masih bisa bebas bercengkerama bersama kolega dan mengikuti proses politik.

Sungguh sebuah ironi yang mengangkangi akal sehat dan mengebiri yurisprudensi yang telah disepakati bersama. Dan dengan berat hati, izinkan kami bertanya, sudah sedemikian buramkah demokrasi kita?

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here