Home BERITA Mengintip Alotnya Tarik Ulur RUU Terorisme

Mengintip Alotnya Tarik Ulur RUU Terorisme

SHARE
Ilustrasi (Virza/Kriminalitas.com)

AKSI TEROR tak akan pernah berhenti sampai hari kiamat!” Ucapan menohok itu terlontar dari mulut Ali Imron, pelaku bom Bali yang divonis seumur hidup kasus terorisme. Terdengar menakutkan, tapi begitulah keyakinan adik terpidana mati Amrozi dalam kasus yang sama ini.

Namun, dia menegaskan bahwa aksinya dulu berbeda dengan aksi teror bom bunuh diri yang kini dilakukan oleh antek ISIS di Indonesia. Menurutnya, para pelaku bom bunuh diri itu tak pernah peduli, apakah yang dilakukannya benar atau tidak.

Yang ada di otak mereka hanyalah ‘pembenaran’ dari apa yang diyakininya, bukan ‘kebenaran’ yang sesungguhnya. Ali menambahi, kelompoknya dulu tidak pernah menghalalkan darah manusia atau mengkafirkan sesama umat Islam seperti yang dilakukan ISIS.

Tapi, sudahlah Mas Ali. Tak begitu penting alasannya berbeda atau tidak. Yang pasti akibatnya sama persis, rakyat Indonesia menangis berjamaah karena perbuatan brutal yang kalian lakukan. Itu juga menunjukkan bahwa masih ada sekelompok ekstremis yang tak cerdas beragama.

Itu sekilas tentang Ali Imron untuk sekadar merefresh ingatan tentang dahsyatnya aksi teror yang terjadi di Bali pada 2002 dan 2005 silam. Sekarang, mari kita tengok kegaduhan yang terjadi di Indonesia pasca aksi teror bom bunuh diri di Kampung Melayu beberapa waktu lalu.

Apa itu? Tak lain adalah terbengkelainya Rancangan Undang-Undang Terorisme yang hari-hari ini terlihat sangat seksi untuk digodai. Seolah, semua berebut ingin ‘ikut campur’ dengan polah tingkahnya yang ‘genit’. Akibatnya, Komisi III DPR yang dibebani tugas mulia untuk merampungkan RUU Terorisme langsung jadi bulan-bulanan. Mereka dinilai tak cekatan dan lamban mengemban amanat.

Tak mau terus di-bully, Ketua Pansus RUU Terorisme membela diri bahwa lambatnya pembahasan itu karena ada penambahan substansi draft RUU yang perlu dilengkapi dengan konten tentang upaya pencegahan dan penanganan korban yang sama sekali belum disentuh.

Dengan kata lain, dalam UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang dibuat pada masa pemerintahan Presiden Megawati tersebut, masih masih ada yang perlu direvisi.

Ada empat hal yang belum masuk dalam pembahasan hukumnya, yakni mengenai penetapan pidana terhadap perbuatan yang mendukung aksi terorisme; perbuatan penyebaran kebencian dan permusuhan; masuknya seseorang ke dalam organisasi terorisme, dan yang terakhir adalah masalah rehabilitasi pelaku terkait tindak terorisme.

Masalahnya jadi makin mengemuka saat Presiden Joko Widodo meminta agar TNI dilibatkan dalam RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme itu. Padahal dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI sudah diatur mengenai keterlibatan TNI untuk mengatasi terorisme.

Keterlibatan TNI dalam penanganan terorisme itu diatur dalam pasal 7 ayat 1 dan 2. Pasal 7 ayat 1 menjelaskan tentang tugas pokok TNI yang salah satunya adalah melindungi bangsa dari ancaman dan gangguan. Sementara dalam Pasal 7 ayat 2 tentang tugas pokok TNI untuk melakukan operasi selain perang, yang salah satunya adalah mengatasi aksi terorisme.

Tak dipungkiri bahwa selama ini yang berdiri paling depan dalam menghadapi aksi terorisme di Indonesia adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yang bekerja sama dengan Polri dan TNI.

Bentuk sinergi yang dilakukan Polri untuk menguatkan BNPT adalah dengan membentuk Tim Densus 88. Sementara, TNI telah membentuk tim khusus yang meliputi Satgultor (TNI AD), Den Jaka (TNI AL), dan Den Bravo (TNI AU) yang bertugas melakukan operasi sangat khusus, terutama pencegahan dan penanggulangan terorisme.

Jadi, ada baiknya jika semua tak mengedepankan emosi sektoral dalam memberantas terorisme yang mengancam keutuhan NKRI. Rangkul semua komponen bangsa yang memang kapabel dan telah teruji mampu membentengi bangsa ini dari serangan kelompok radikal.

Terorisme adalah musuh bersama, maka hanya ada satu cara untuk menghadapinya: bersatu dan saling menguatkan demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here