Home BERITA Nekat Blokir Netizen, Donald Trump Dituntut ke Meja Hijau

Nekat Blokir Netizen, Donald Trump Dituntut ke Meja Hijau

SHARE
Presiden Joko Widodo dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Setkab)

KRIMINALITAS.COM, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kontroversi di masa kepemimpinannya. Baru-baru ini, Presiden AS ke-45 tersebut memblokir beberapa pengguna media sosial Twitter, karena dinilai terlalu vokal dalam melontarkan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang dirinya buat.

Namun aksi tersebut justru menimbulkan permasalahan baru. Pasalnya, beberapa pengguna media sosial yang terkena embargo dari Trump mengajukan tuntutan hukum. Menurut mereka, pemblokiran tersebut adalah tindakan yang inkonstitusional dan melanggar hak-hak warga negara untuk berdemokrasi.

Menurut kabar yang dirilis Independent, Rabu (12/7/2017), tujuh orang pengguna Twitter telah melayangkan tuntutan hukum ke Pengadilan Federal, Manhattan, New York . Dalam tuntutan tersebut, juga terdapat nama Sekretaris Gedung Putih untuk Urusan Pers, Sean Spicer dan Direktur Media Sosial Gedung Putih, Dan Scavino.

“Akun @realDonaldTrump seharusnya berfungsi untuk menyampaikan berita dan informasi kepada publik dan warga biasa akan mampu berinteraksi dengan presiden dan merespon kebijakan-kebijakannya, sekaligus bertukar pikiran satu sama lain,” demikian bunyi tuntutan hukum tersebut.

Dalam tuntutan yang diajukan oleh kelompok Knight First Amendment Institute dari Universitas Colombia juga menyebut, aksi pemblokiran oleh Trump telah melanggar Amandemen Pertama yang mengatur soal kebebasan dalam menyampaikan pendapat.

Pemblokiran ini sendiri berawal dari ramainya komentar-komentar para warganet AS terkait cuitan Trump soal kantor-kantor berita yang kerap memberitakan berita-berita palsu alias hoax. Salah satu kantor berita yang dikritik Trump adalah CNN.

Klaim tersebut pada akhirnya menimbulkan respon negatif dari beberapa netizen. Beberapa di antaranya menyebut Trump hanya bisa memenangkan Pemilihan Presiden karena dibantu oleh para peretas dari Rusia.

Sebelumnya, Presiden Trump telah menyatakan bahwa dirinya akan lebih aktif menggunakan akun @realDonaldTrump ketimbang akun resmi untuk presiden AS, @POTUS. Ia juga menyebut Twitter sebagai tanda dari sebuah kemajuan dalam berdemokrasi.

“Penggunaan media sosial memang tidak bersifat Presidensial. Namun ini adalah PRESIDENSIAL MODERN,” tulis Trump pada tanggal 2 Juli 2017 silam.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Andreas Pratama and DRE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here