Home BERITA Pembubaran HTI dan Reminder Tujuan Berbangsa

Pembubaran HTI dan Reminder Tujuan Berbangsa

SHARE
Hizbut Tahrir Indonesia (Net)

HIZBUT TAHRIR INDONESIA meradang. Ormas berideologi Islam yang sudah terbentuk di Indonesia sejak tahun 1980 ini tiba-tiba akan dibubarkan. Alasannya, pemerintah melalui Pak Wiranto menganggap HTI sudah menyimpang dari tujuan pendirian negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Merunut sejarahnya, Hizbut Tahrir pertama berdiri pada 1953 di Al-Quds (Baitul Maqdis), Palestina. Hisbut Tahrir adalah gerakan yang ingin mengembalikan kehidupan Islam di seluruh dunia melalui tegaknya Khilafah Islamiyah. Pelopor Hisbut Tahrir adalah Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama yang pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah di Palestina.

Kembali ke HTI, alasan utama pemerintah memberangus HTI adalah paham khilafah yang diusungnya. HTI lupa bahwa mereka tumbuh di Indonesia, negara yang berideologi Pancasila. Negara yang jelas-jelas tak memberikan ruang gerak pada ormas yang bertentangan dengan ideologi Pancasila yang telah disepakati bersama.

Dalam perkembangannya, diam-diam HTI merekrut anggota dan mendoktrinnya melalui dakwah-dakwah yang dilakukan. Kepada para pengikutnya, HTI mengajak mereka untuk menerapkan hukum Islam secara kafah.

Selama ini, pemerintah tak menutup mata dan tetap mengakomodir munculnya ormas-ormas Islam di Indonesia. Namun, ada koridor yang tak bisa ditawar bahwa ormas tersebut harus mengikuti aturan dan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan jika kita berkaca pada munculnya kelompok teroris Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang menggegerkan dunia internasional karena gerakan radikal yang diusungnya menyatakan perang terhadap negara-negara yang disebutnya kafir.

Berikutnya adalah kelompok teroris ISIS yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi yang merupakan pecahan Al Qaeda. Setali tiga uang dengan Al Qaeda, ISIS juga dikenal sebagai organisasi teroris internasional yang mengusung paham kekerasan, bahkan menghalalkan darah sesama muslim yang tak sehaluan dengannya.

Selanjutnya adalah kelompok garis keras Jabhat al Nushra pimpinan Abu Mohammed al-Julani yang ingin menegakkan syariat Islam di Suriah. Sangat jelas bahwa ketiga organisasi radikal tersebut mengatasnamakan Islam, tapi tindakannya justru jauh dari ajaran Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Maka adalah hal yang wajar bila pemerintah bergerak cepat untuk memetieskan ormas HTI yang dikhawatirkan akan menyebarkan paham radikal di Indonesia. Pemerintah beralasan, HTI dinilai tidak berperan positif dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional.

Akhirnya, jika nanti benar HTI dibubarkan, tak seharusnya timbul gejolak. Meski rakyat Indonesia mayoritas muslim, semua harus kembali pada konsensus bersama bahwa Indonesia adalah negara yang berdasar Pancasila.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here