Home BERITA Penjahat Makin Jemawa atau Masyarakat yang Mati Rasa?

Penjahat Makin Jemawa atau Masyarakat yang Mati Rasa?

SHARE
Ilustrasi (Virza/Kriminalitas.com)

RASANYA tak ada lagi tempat aman di sekeliling kita, bahkan lima langkah di depan pintu rumah bisa menjadi locus delicti tindak kejahatan. Memang, kejahatan tak pernah mensyaratkan harus di mana dan kapan akan terjadi. Kejahatan bisa mengintai setiap orang tanpa berhitung ruang dan waktu.

Semua terperangah ketika tersiar kabar dua orang tak bersalah meregang nyawa di ujung pistol perampok. Kejadian pilu yang sudah pasti meninggalkan luka di hati keluarga yang ditinggalkan.

Kita tentu tak habis pikir, kenapa orang menjadi begitu mudah mengambil alih peran Tuhan untuk menyudahi hidup seseorang? Namun, ini adalah kejadian nyata yang terjadi di sekitar kita.

Lalu, apa yang bisa dipetik dari peristiwa perampokan yang mengakibatkan melayangnya nyawa di tempat terbuka pada siang hari bolong itu? Di satu sisi, semua sepakat bahwa peristiwa itu terjadi karena nekatnya para penjahat saat menjalankan aksinya. Apakah masyarakat harus menyerah? Tentu saja tidak!

Mungkinkah peristiwa mengerikan itu bisa direduksi? Tentu tak ada yang bisa memastikan, tapi itu juga bukan tidak mungkin diupayakan jika saja kita mau mewujudkannya. Dan kuncinya adalah memunculkan lagi kepedulian yang mungkin sempat hilang di antara kita.

Bayangkan seandainya sudah tak ada lagi rasa simpati dan empati di antara orang-orang terdekat Anda. Masing-masing hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan tak peduli dengan keadaan sekitar. Kita akan merasakan kehidupan yang kering dan mati rasa. Mengapa? Karena tak ada sentuhan hati dan jiwa yang hadir di dalamnya.

Bahkan seorang penjahat sekaliber apa pun akan berpikir seribu kali untuk melakukan aksi kejahatan saat kita mau saling peduli dan menjaga. Semangat kebersamaan inilah yang saat ini menguap dalam tata kehidupan masyarakat.

Terlalu sulit dan rumitkah untuk memulainya? Tidak juga. Yang dibutuhkan hanyalah langkah kecil untuk mulai saling menyapa dan mengingatkan. Caranya? Mulailah dengan menghidupkan lagi paguyuban warga di setiap kampung.

Tak ada salahnya menggiatkan lagi siskamling di lingkungan masing-masing. Berkolaborasi dengan polsek-polsek terdekat, tempelkan nomor-nomor telepon darurat bantuan kepolisian di tempat strategis.

Manfaatkan pula aplikasi panic button di ponsel yang bisa langsung terhubung ke polisi bila terjadi tindak kejahatan yang terjadi di lingkungan sekitar. Aksi simpatik dari pihak kepolisian juga diyakini akan menimbulkan ‘efek gentar’ bagi para pencoleng guna meminimalisir tindak kriminal.

Maling, rampok, pencuri, dan apa pun sebutannya boleh punya banyak cara untuk berbuat kejahatan. Tapi, masyarakat yang cerdas juga tak kehabisan akal untuk mengantisipasinya bila memang punya greget untuk menangkalnya.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here