Home BERITA Pilkada, Ajang Balas Dendam untuk Sang Petahana

Pilkada, Ajang Balas Dendam untuk Sang Petahana

SHARE
Ilustrasi. (Megs/Kriminalitas.com)

BILIK-bilik pencoblosan sudah dibangun di seantero Jakarta. Kartu suara pun sudah di tangan. Di meja kecil di dalam bilik coblos juga sudah tersedia bantalan spons warna putih lengkap dengan paku penusuknya.

Pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru di Jakarta dan di 100 daerah lain di seluruh Indonesia akan segera digelar. Saat itulah nasib bagi para paslon yang maju sebagai kandidat calon gubernur ditentukan, yang semua tahu pilihannya cuma ada dua, ‘ketawa sumringah’ atau ‘termehek-mehek’.

Dan suka atau tidak, Jakarta tetaplah jadi sorotan paling meriah dalam gelaran pilkada kali ini. Di ibu kota inilah tersaji drama penuh intrik yang menarik untuk diikuti dan disimak. Kampanye negatif bahkan kampanye hitam -meski tersamar- yang dihembuskan oleh ‘tim hore’ paslon, turut mewarnai atmosfir panas perebutan kursi gubernur.

Semua pasti juga setuju jika dikatakan bahwa nama Agus, Ahok, dan Anies adalah nama yang paling banyak disebut dalam empat bulan terakhir ini. Mereka -tiga nama itu- disanjung dan dipuja, tapi juga sekaligus jadi sasaran tembak yang sangat empuk untuk menjatuhkan namanya.

Lagi-lagi, semua juga tahu persis, nama siapa yang paling sering diteriakkan dengan nada penuh kemarahan: Ahok. Ada aroma dendam yang kesumat memenuhi rongga-rongga dada saat meneriakkan namanya.

Akibatnya, kerja keras yang telah dilakukan Ahok untuk warga Jakarta selama periode kepemimpinannya dulu, seolah tertutupi oleh sepak terjangnya yang dinilai oleh banyak pihak sebagai blunder yang diprediksi bakal menggerus suaranya pada hari pencoblosan.

Dan yang tak boleh dianggap remeh dan berpotensi bakal ‘menerjunbebaskan’ suara Ahok adalah gerakan aksi ‘balas dendam’ terkait kebijakan Ahok yang dianggap menganaktirikan ‘kaum papa’ selama dirinya menjabat sebagai gubernur.

“Ah, itu kan asumsi orang-orang yang apriori pada sang petahana saja”, mungkin itu yang tebersit di benak para tifosi Ahok atau yang biasa disebut ‘ahokers’ .

Bukan kami merasa paling benar, tapi itu adalah kenyataan yang agak sulit dibantah karena tak sedikit warga Jakarta yang punya hak pilih, pernah merasakan bagaimana sakitnya ‘dizalimi’ dengan kebijakan yang melukai nurani.

Sebagai contoh adalah kebijakan penggusuran yang dialami oleh warga Jakarta yang tinggal di bantaran kali. Rumah yang telah mereka bangun dan tinggali selama puluhan tahun itu luluh lantak di depan mata kepala mereka sendiri. Romantisme yang tercerabut, itu sangat mahal harganya.

Masih hangat pula di ingatan kita bagaimana nasib nelayan di Pantai Utara Jakarta yang tak bisa lagi mencium amisnya bau ikan di jala-jala mereka karena kebijakan reklamasi. Selanjutnya adalah masalah pencabutan dana hibah Bamus Betawi pun sempat menjadi polemik. Padahal semua tahu, Bamus Betawi adalah sebuah organisasi yang ‘Jakarta banget’ karena menyangkut kebudayaan dan sejarah Jakarta.

Belum lagi mereka yang merasa sakit hati, terhina, dan dipermalukan oleh buruknya komunikasi verbal sang petahana. Ahok memang dikenal sebagai ‘gubernur kalkulator’ yang piawai mengalkulasi hitung-hitungan proyek. Namun sekali lagi, sisi kemanusiaan dan kesantunan tetaplah menjadi faktor penting bagi warga untuk memberikan suaranya.

Sekarang adalah saatnya rakyat bersuara dan membuat perhitungan. Inilah saatnya rakyat menabuh genderang perang dan menuntut keadilan. Membalas dendam yang selama ini membelenggunya dengan cara yang bermartabat. Membuat perhitungan agar tidak ada suara yang dapat dihitung untuk Ahok.

Dan akhirnya, Anda sebagai warga yang punya hak pilih untuk menusukkan paku tajam ke gambar kandidat di bilik coblosan, hanya Tuhan dan Anda sendiri yang tahu, karena kami hanya bisa menduga-duga.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Sjamsu Dradjad and SJM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here