Home BERITA Sabar dan Tawakal, Pesan Din Syamsuddin untuk Dua Koruptor di KPK

Sabar dan Tawakal, Pesan Din Syamsuddin untuk Dua Koruptor di KPK

SHARE
Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsudin. (NET)
Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsudin. (NET)

KRIMINALITAS.COM, Jakarta – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menjenguk dua rekannya, Irman Gusman dan Fahmi Darmawansyah yang menginap di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dari informasi yang dihimpun, Din tiba seorang diri sekira pukul 09.50 WIB. Dia datang dengan mengenakan kemeja berwarna merah dan celana hitam.

“Saya datang untuk meminta izin kepada KPK untuk mengunjungi dua sahabat saya yang ditahan yaitu Pak Irman Gusman dan Pak Fahmi Darmawansyah. Untuk memberikan dukungan moril agar mereka sabar, tabah dan tawakal menghadapi musibah ini,” kat Din kepada wartawan di KPK, Kamis (29/12/2016).

Kendati bersahabat, Din mengaku tidak mengetahui detail kasus yang dijalani Irman dan Fahmi.

“Saya belum mengetahui, kecuali bersifat umum saja. Kalau Pak Irman gusman yang saya ketahui, beliau karena dituduh menerima (uang) 100 juta. Kemudian menjadi tersangka dan ditahan karena dianggap menerima semacam suap aatu gratifikasi,” ujarnya.

“Sedangkan Kalau Pak Fahmi Darmawansyah, kebetulan dia itu bagaikan adik dengan saya. Justru ketika terjadi operasi tangkap tangan (OTT) bersama anak buahnya, beliau bersama keluarga sedang berlibur di Eropa yang sedianya akan pulang tanggal 29 Desember, hari ini,” lanjutnya.

Din mengaku, Fahmi sangat kaget ketika mendengar kabar soal OTT yang menjerat namanya. Alhasil, ia langsung memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia.

“Dan bahkan dengan niat baik datang ke KPK walaupun belum ada surat panggilan. Namun hari itu juga Pak Fahmi dijadikan tersangka dan ditahan,” tutur Din.

Sebelumnya Fahmi diduga melarikan diri ke Belanda dua hari menjelang OTT Bakamla. Saat hari pertama diperiksa KPK, ia langsung ditahan oleh penyidik.

KPK sudah menetapkan empat tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pengadaan monitoring satelit di Bakamla yang dibiayai APBN-P 2016.

Mereka adalah Deputi Informasi Hukum dan Kerjasama (Inhuker) sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla Eko Hadi Susilo, dua Pegawai PT Melati Technofo Indonesia (MIT) Muhammad Adami Okta dan Hardy Stevanus serta Direktur utama PT MIT Fahmi Darmawansyah.

PT MIT sendiri merupakan pemenang lelang pengadaan satelit monitoring di Bakamla. Eko Hadi Susilo yang merupakan kuasa pengguna anggaran (KPA), diduga berperan untuk memenangkan PT MTI tersebut.

Scroll ke bawah untuk berita lainnya.

Regina Nabila and Ahmad Alfian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here